Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Minggu, 24 Maret 2013

Tanda-tanda Cinta Nabi


Tanda-tanda Cinta Nabi 

Alhamdulilah Allah telah mengaruniakan kepada kita seorang Nabi dan Rasul Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah berfirman,
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. al-Anbiya; 107).
Beliau adalah seorang Nabi yang sangat kasih sayang.
Pembaca yang budiman…
Bila Anda ditanya, “Cintakah Anda kepada beliau?” “Tentu saja,” inilah jawaban yang tentunya akan Anda sampaikan. Namun, sudah benarkah kecintaan Anda kepada- nya? Inilah pertanyaan yang mudah-mudahan akan terjawab melalui tulisan ini.
Pembaca yang budiman…
Bukti cinta seseorang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam memiliki tanda-tanda. Di antara tanda-tanda tersebut yaitu,

Pertama, mengikuti Sunnah dan berpegang teguh dengan petunjuknya.

Allah berfirman, yang artinya,
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31).

Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah tatkala menafsirkan ayat ini mengatakan,ayat yang mulia ini merupakan pemutus bagi orang yang mengaku cinta kepada Allah sedang ia berada di luar jalan Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam,  maka sesungguhnya ia seorang pendusta dalam pengakuannya tersebut hingga ia mengikuti syariat Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam dan agamanya baik dalam perkataan maupun perbuatan. Hal ini telah disebutkan dalam hadits Shahih, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
Barangsiapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah kami, maka tertolak.” (Muttafaq ‘alaih)

Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata'aalaa berfirman, yang artinya, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku.” (QS. Ali Imran: 31) (Tafsir al-Qur’an al ‘Azhim, Ibnu Katsir Rahimahullah)

Kedua, Banyak menyebut namanya dan ingin melihatnya.
Di antara umatku yang paling cinta kepadaku adalah orang-orang yang hidup sesudahku, yang salah seorang di antara mereka ingin melihatku walau harus mengorbankan keluarga dan harta benda.” (HR. Muslim)

Banyak menyebut manaqib (kisah hidup) dan kepribadian beliau yang mulia, menjalankan sunnah-sunnahnya yang agung, dan banyak bershalawat kepadanya.

Ibnu al-Qayyim di dalam kitabnya, “Jalaul Afham” berkata, “Setiap kali seorang hamba banyak menyebut nama yang dicintainya dan menghadirkan kebaikan-kebaikannya di dalam hati; mengingat sisi-sisi positifnya, niscaya akan bertambahlah kecintaannya kepada yang dicintainya tersebut dan akan menambah pula kerinduannya untuk berjumpa dengannya. Ini semua akan menguasai semua relung hatinya.

Ketiga, Mempelajari dan mengamalkan al-Qur’an serta adab-adabnya.
Imam al-Baihaqi meriwayatkan di dalam kitabnya, “al-Adab”, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata,
Hendaknya seseorang tidak bertanya tentang dirinya kecuali (tentang kedudukan) al-Qur’an(di hatinya). Jika ia mencintai al-Qur’an, maka ia akan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Keempat, Cinta kepada orang yang mencintai beliau n dan membenci orang yang membencinya.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, 
Barangsiapa mencintai Ali, sungguh ia telah mencintaiku, dan barangsiapa membenci Ali sungguh ia telah membenciku” (HR. al-Hakim)

Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
Barangsiapa mencintai keduanya(yakni: al Hasan dan al Husain, cucu Nabi n-pen), sungguh ia telah mencintaiku. Dan barangsiapa membenci keduanya, sungguh ia telah membenciku” (HR.Ahmad)

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
Barangsiapa mencintaiku, maka hendaklah ia mencintai Usamah” (HR.Muslim)

Mencintai sahabat, keluarga beliau dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dari kalangan ulama, ahli ibadah, orang-orang yang zuhud, dermawan, maupun orang-orang yang baik, ini semua merupakan suatu bentuk kecintaan terhadap orang yang mencintai beliau Shallallahu 'alaihi wasallam.

Demikian pula mencintai amal, adab, muamalah dan semua perbuatan yang dicintai beliau Shallallahu 'alaihi wasallam.

Demikian pula, membenci orang-orang yang buruk dan perbuatan-perbuatan buruk yang mereka lakukan. karena hal itu termasuk yang dibenci beliau Shallallahu 'alaihi wasallam.

Kelima, Tidak ghuluw (berlebih-lebihan) dalam mencintai dan mengangkat beliau di atas kedudukan yang semestinya yang telah diberikan Allah Subhaanahu Wataa'laa.

Anas (bin Malik-pen) meriwayatkan bahwa sekelompok orang pernah mengatakan, “Wahai Rasulullah, wahai orang terbaik dikalangan kami, anak orang terbaik di kalangan kami, sayyid kami, dan anak sayyid kami.” (mendengar ungkapan ini) maka beliau Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
Wahai manusia, hati-hatilah dari ucapan kalian, dan janganlah kalian diperdayakan oleh setan! Saya adalah Muhammad, hamba dan utusan-Nya. Demi Allah, aku tidak suka kalian mengangkatku di atas kedudukanku yang telah Allah berikan kepadaku.” (HR. Ahmad)

Keenam, Menghindarkan diri dari bid’ah dan mengikuti hawa nafsu.
Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu berkata,
Berittiba’lah (ikutilah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam-red) kalian dan jangan melakukan kebid’ahan, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan” (HR.ad-Darimiy)

Beliau Radhiyallahu 'anhu juga berkata,
Sederhana dalam melakukan sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam melaksanakan bid’ah” (HR. al-Hakim di dalam al-Mustadrak)

Semoga Allah Subhaanahu Wata'aalaa menjadikan kita termasuk golongan orang yang mengikuti beliau Shallallahu 'alaihi wasallam,  orang-orang yang beriman kepadanya dan orang-orang yang benar kecintaan kepadanya Shallallahu 'alaihi wasallam.  Semoga pula Allah Subhaanahu Wata'aalaa menghidupkan kita di atas sunnahnya dan mematikan kita di atasnya pula. Semoga pula Allah mengumpulkan kita di bawah benderanya pada hari kiamat nanti. Semoga Allah mengaruniakan syafa’at beliau kepada kita. Semoga Allah mengampuni kesalahan kita. Sesungguhnya Dia Maha mendengar doa, Dzat yang layak diharapkan. Cukuplah Dia menjadi Penolong kita dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabat beliau.

[Sumber: Diringkas dari makalah berjudul, “Sittu Simatin Lishidqi al-Mahabbah,” Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar