Bahaya Mengingkari Takdir
Iman kepada takdir merupakan
bagian dari rukun iman. Pengingkaran terhadapnya menunjukkan kerusakan iman
seseorang. Adakah orang yang mengingkari dan apa bahaya/akibat dari
pengingkaran tersebut?
Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam telah mengabarkan,
Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam telah mengabarkan,
“Masing-masing umat mempunyai orang-orang Majusi, dan Majusi ummatku adalah
orang-orang yang berkata, “Tidak ada takdir”. Bila mereka sakit, janganlah
kalian menjenguknya. Bila mereka mati, janganlah kalian hadiri jenazahnya.”
(HR. Ahmad, no. 5548, Syaikh al-Albani berkata, “Hadits ini hasan.”).
Teks hadits mengisyaratkan bahwa ada di antara umat beliau Shallallahu 'alahi wasallam yang mengingkari takdir. Dan, pengingkaran tersebut keluar dari perkataan mereka dengan jelas, yaitu, “Tidak ada takdir” yang berasal dari keyakinan mereka. Allahu a’lam. Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.
Orang-orang yang mengingkari adanya takdir, sungguh berada dalam bahaya. Di antara bahaya yang tengah menimpa mereka yaitu,
1. Tebusan dan taubatnya tidak akan diterima
Diriwayatkan dari Umamah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda,
Teks hadits mengisyaratkan bahwa ada di antara umat beliau Shallallahu 'alahi wasallam yang mengingkari takdir. Dan, pengingkaran tersebut keluar dari perkataan mereka dengan jelas, yaitu, “Tidak ada takdir” yang berasal dari keyakinan mereka. Allahu a’lam. Semoga Allah melindungi kita dari hal tersebut.
Orang-orang yang mengingkari adanya takdir, sungguh berada dalam bahaya. Di antara bahaya yang tengah menimpa mereka yaitu,
1. Tebusan dan taubatnya tidak akan diterima
Diriwayatkan dari Umamah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda,
“Tiga macam orang yang tidak akan diterima taubat ataupun tebusan mereka,
orang yang durhaka, yang suka mengungkit-ngungkit pemberian, dan yang mendustakan
takdir.’” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim di dalam as-Sunnah, Syaikh al-Albani
berkata, “Hadits ini hasan.”).
2. Tidak akan diterima infaqnya
Diriwayatkan dari Ibnu ad-Dailimi, ia berkata, “Aku mendatangi Ubay bin Ka’ab dan aku katakan kepadanya, ‘Terlintas dalam pikiranku sesuatu tentang masalah takdir. Lalu sampaikanlah suatu perkataan kepadaku mudah-mudahan Allah menghilangkan keraguan dalam hatiku.’ Dia berkata,
2. Tidak akan diterima infaqnya
Diriwayatkan dari Ibnu ad-Dailimi, ia berkata, “Aku mendatangi Ubay bin Ka’ab dan aku katakan kepadanya, ‘Terlintas dalam pikiranku sesuatu tentang masalah takdir. Lalu sampaikanlah suatu perkataan kepadaku mudah-mudahan Allah menghilangkan keraguan dalam hatiku.’ Dia berkata,
“Seandainya Allah mengadzab
seluruh penduduk langit dan bumi niscaya dia mengadzab mereka tanpa berbuat
dzalim kepada mereka. Dan seandainya Allah merahmati mereka niscaya rahmat-Nya
itu lebih baik bagi mereka dari amal-amal mereka. Dan ketahuilah seandainya
engkau menginfakkan emas sebesar gunung Uhud di jalan Allah niscaya Allah tidak
akan menerima darimu hingga engkau beriman kepada takdir. Dan engkau meyakini
bahwasanya apa yang ditakdirkan menimpamu pasti tidak akan meleset darimu. Dan
apa yang ditakdirkan meleset darimu niscaya tidak akan menimpamu. Jika engkau
mati di atas keyakinan selain keyakinan ini niscaya engkau masuk Neraka.”
Ibnu ad-Dailimi berkata, “Lalu
akupun mendatangi Abdullah bin Mas’ud dan dia mengatakan hal yang sama.
Kemudian aku mendatangi Hudzaifah bin Yaman dan dia juga mengatakan hal yang
sama. Lalu aku mendatangi Zaid bin Tsabit dan dia menyampaikan kepadaku dari
Nabi Shallallahu 'alahi wasallam perkataan yang sama.” (HR. Abu
Dawud, no. 4701).
3. Terancam oleh kecaman keras dan sikap berlepas diri para generasi terbaik ummat ini
Diriwayatkan dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata, “Orang yang pertama kali berbicara tentang takdir di Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani. Lalu aku pun berangkat bersama Humaid bin Abdurrahman al-Himyari untuk melaksanakan haji dan umrah. Kami pun berkata, ‘Andaikata kita bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam kita akan menanyakan mereka tentang masalah takdir.’ Akhirnya kami pun berkesempatan bertemu dengan Abdullah bin Umar Ibnu Khattab. Dia memasuki masjid lalu aku dan sahabatku mengiringinya, satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri. Dan aku kira sahabatku menyerahkan pembicaraan kepadaku, lalu akupun berkata, ‘Wahai Abu Abdurrahman, telah muncul di tempat kami orang-orang yang membaca al-Qur’an, menuntut ilmu dan menelitinya. Dia pun menyebutkan keadaan mereka. Mereka meyakini tidak ada takdir dan bahwasanya semua perkara itu terjadi begitu saja’.”
3. Terancam oleh kecaman keras dan sikap berlepas diri para generasi terbaik ummat ini
Diriwayatkan dari Yahya bin Ya’mar, ia berkata, “Orang yang pertama kali berbicara tentang takdir di Bashrah adalah Ma’bad al-Juhani. Lalu aku pun berangkat bersama Humaid bin Abdurrahman al-Himyari untuk melaksanakan haji dan umrah. Kami pun berkata, ‘Andaikata kita bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam kita akan menanyakan mereka tentang masalah takdir.’ Akhirnya kami pun berkesempatan bertemu dengan Abdullah bin Umar Ibnu Khattab. Dia memasuki masjid lalu aku dan sahabatku mengiringinya, satu di sebelah kanan dan satu di sebelah kiri. Dan aku kira sahabatku menyerahkan pembicaraan kepadaku, lalu akupun berkata, ‘Wahai Abu Abdurrahman, telah muncul di tempat kami orang-orang yang membaca al-Qur’an, menuntut ilmu dan menelitinya. Dia pun menyebutkan keadaan mereka. Mereka meyakini tidak ada takdir dan bahwasanya semua perkara itu terjadi begitu saja’.”
Ibnu Umar berkata,
“Jika engkau berjumpa dengan mereka, maka beritahukanlah kepada mereka
bahwasanya aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi
Allah yang Abdullah bin Umar bersumpah dengan-Nya, seandainya salah seorang
dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu menginfakkannya niscaya
Allah tidak akan menerima darinya hingga ia beriman kepada takdir baik dan
buruk.”
Kemudian ia berkata, ‘Telah
mengabarkan kepadaku ayahku Umar bin Khaththab (lalu menyebutkan hadits Jibril
yang panjang tentang Islam, iman, ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat),” (HR.
Muslim, kisah ini disebutkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, no. 177).
4. Tidak dapat merasakan manisnya iman dan tidak termasuk golo- ngan ummat Muhammad Shallallahu 'alahi wasallam
Diriwayatkan bahwa ‘Ubadah bin Ash-Shamit,ia berkata kepada anaknya, “Hai anakku, sungguh kamu tidak akan merasakan nikmatnya iman sebelum kamu meyakini bahwa sesuatu yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset, dan sesuatu yang telah ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu. Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya pertama-tama yang diciptakan Allah adalah Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya, “Tulislah!.” Ia menjawab, “Ya Tuhanku! Apa yang hendak kutulis?” Allahlberfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu sampai hari kiamat.” Hai anakku! Aku pun telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda, ”Barangsiapa yang meninggal tidak dalam keyakinan ini, maka ia tidak termasuk umatku.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
5. Masuk ke dalam Neraka
Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda,
4. Tidak dapat merasakan manisnya iman dan tidak termasuk golo- ngan ummat Muhammad Shallallahu 'alahi wasallam
Diriwayatkan bahwa ‘Ubadah bin Ash-Shamit,ia berkata kepada anaknya, “Hai anakku, sungguh kamu tidak akan merasakan nikmatnya iman sebelum kamu meyakini bahwa sesuatu yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset, dan sesuatu yang telah ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu. Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya pertama-tama yang diciptakan Allah adalah Qalam (pena), lalu Allah berfirman kepadanya, “Tulislah!.” Ia menjawab, “Ya Tuhanku! Apa yang hendak kutulis?” Allahlberfirman, “Tulislah takdir segala sesuatu sampai hari kiamat.” Hai anakku! Aku pun telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda, ”Barangsiapa yang meninggal tidak dalam keyakinan ini, maka ia tidak termasuk umatku.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
5. Masuk ke dalam Neraka
Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla seandainya mengazab penduduk langit dan
bumi, tidaklah Dia berbuat Zhalim. Dan seandainya Allah merahmati mereka, maka
rahmat-Nya yang diberikan kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka daripada
amal-amal mereka. Dan kalaulah seandainya seseorang mempunyai emas sebesar
gunung Uhud yang ia infakkan di jalan Allah hingga habis sementara ia tidak
beriman kepada takdir baik dan buruk, niscaya ia akan masuk ke dalam Neraka”
(HR. ath-Thabrani di dalam Musnad asy-Syamiyyin).
Dalam suatu riwayat milik Ibnu
Wahab disebutkan, Rasulullah Shallallahu 'alahi wasallam bersabda,
“Barangsiapa tidak beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk, maka
Allah akan membakarnya dengan api Neraka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Wahab di
dalam al-Qadar, no.26; Ibnu Abu Ashim di dalam as-Sunnah, no.111; dan al-Ajuri
di dalam asy Syari’ah, hal.186.)
Demikianlah pembahasan seputar masalah bahaya mengingkari takdir, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam (
Demikianlah pembahasan seputar masalah bahaya mengingkari takdir, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam (
[Sumber: Disarikan dari beberapa sumber]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar